Dulu, kalau ada orang di kampung saya bilang "kerja di kota", yang kebayang itu gedung tinggi, baju rapi, dan gaji yang bikin tetangga iri. Nggak ada yang cerita soal deg-degan nunggu panggilan wawancara, atau salah tingkah di depan HRD yang tatapannya kayak bisa nembus pikiran. Nah, saya pernah ngalamin semua itu. Dan lucunya, saya bukan lulusan kampus top, bukan orang yang jago ngomong, dan nggak punya kenalan orang dalam. Saya cuma anak kampung yang nekat bikin CV di warnet, lalu ngirim lamaran ke sana-sini.
Artikel ini bukan cerita sukses yang muluk-muluk. Ini lebih kayak curhat plus pelajaran yang saya dapat dari beberapa kali gagal wawancara, sampai akhirnya ada satu perusahaan yang bilang "kamu kami terima". Buat kamu yang tinggal di kota kecil atau desa dan lagi mikirin kerja di kota, mungkin cerita ini bisa bikin kamu ngerasa nggak sendirian.
Berangkat dari Kampung dengan Modal Nekat
Saya ingat banget waktu itu. Tas punggung isinya dua baju, satu kemeja lusuh, dan fotokopi ijazah yang saya lipat rapi di dalam map plastik. Saya naik bus ekonomi selama sembilan jam, turun di terminal yang ramai banget, dan langsung bingung cari arah. Ini pertama kalinya saya ke kota besar. Suara klakson di mana-mana, orang jalan cepat semua, dan saya berdiri di sana kayak orang kesasar — ya karena memang kesasar.
Malam pertama saya nginap di rumah saudara jauh. Nggak nyaman, tapi ya namanya juga nggak punya pilihan. Besoknya saya mulai nyebar lamaran. Datang ke perusahaan satu per satu, nitip CV ke satpam, kadang ditolak halus dengan senyum sinis. Ada yang bilang "nanti kami kabari", tapi sampai sekarang nggak pernah dikabari. Haha.
Yang paling bikin saya kecil hati bukan penolakannya, tapi perasaan nggak pantas. Kayak, "Saya ini siapa? Anak kampung, lulusan sekolah biasa, bahasa Inggris pas-pasan." Perasaan itu yang paling sering bikin orang kayak kita mundur sebelum bertanding. Padahal, perusahaan nggak cari yang sempurna. Mereka cari yang cocok dan mau belajar.
Pelajaran Pertama: Wawancara Itu Bukan Ujian, Tapi Ngobrol
Wawancara pertama saya kacau. Serius. Saya duduk kaku, tangan berkeringat, dan tiap ditanya saya jawab sependek mungkin kayak lagi ujian lisan. "Bisa jelaskan tentang diri Anda?" — "Nama saya Budi, lulusan SMK." Selesai. Pewawancaranya sampai bingung mau nanya apa lagi. Ya jelas aja saya nggak lolos.
Dari situ saya belajar satu hal penting: wawancara itu sebenarnya ngobrol. Bukan interogasi. Pewawancara juga manusia, mereka pengin tahu kamu siapa, bukan pengin njebak kamu. Jadi kalau kamu tegang berlebihan, yang keluar justru versi kamu yang paling kaku dan nggak natural.
Wawancara yang bagus itu bukan yang jawabannya paling pintar, tapi yang bikin pewawancara ngerasa nyaman ngobrol sama kamu.
Waktu wawancara yang akhirnya saya lolos, saya coba santai. Saya cerita soal pengalaman bantu dagang di pasar, ngurus warung orang tua, dan gimana saya biasa ngadepin pembeli yang rewel. Saya nggak pakai istilah keren. Saya cuma cerita apa adanya. Dan ternyata, justru itu yang bikin mereka tertarik.
Cara Saya Latihan Sebelum Wawancara
Nggak ada yang instan. Saya latihan di kamar mandi, ngaca, ngomong sendiri. Kadang saya rekam suara saya pakai HP, terus dengerin ulang — dan sering ketawa sendiri karena kedengeran aneh. Tapi itu ngebantu banget. Saya jadi tahu kapan saya ngomong terlalu cepat, kapan saya muter-muter nggak jelas.
Saya juga bikin daftar pertanyaan yang kemungkinan ditanya, terus saya tulis jawabannya di buku tulis. Bukan buat dihafal, tapi biar saya punya bayangan mau ngomong apa. Kalau dihafal mentah-mentah, nanti malah kaku kayak robot.
Pelajaran Kedua: Jangan Malu Cerita Soal Kampung
Ini yang dulu sering saya sembunyiin. Saya malu ngaku anak kampung. Takut dianggap nggak gaul, nggak paham teknologi, atau ketinggalan. Tapi lama-lama saya sadar, latar belakang kampung itu justru bisa jadi kekuatan.
Orang yang besar di kampung biasanya lebih tahan banting. Kita terbiasa bangun pagi, kerja keras, dan nggak manja. Kita juga lebih jago beradaptasi karena dari kecil udah biasa hidup sederhana. Hal-hal kayak gini yang justru dicari perusahaan, apalagi yang bidang kerjanya butuh orang tangguh.
Waktu ditanya "Apa kelebihan Anda?", saya jawab jujur: "Saya terbiasa kerja keras sejak kecil, dan saya nggak gampang ngeluh." Itu bukan jawaban hasil googling. Itu beneran saya. Dan pewawancaranya senyum. Mungkin karena jawabannya terasa tulus.
Pelajaran Ketiga: Jangan Takut Ditolak
Saya pernah ditolak tujuh kali sebelum akhirnya diterima. Tujuh! Tiap penolakan rasanya kayak ditampar, apalagi kalau udah nunggu berminggu-minggu. Tapi dari situ saya belajar bahwa penolakan itu bukan berarti kita nggak berguna. Kadang cuma belum cocok. Kadang mereka cari orang dengan kriteria lain. Kadang posisinya udah diisi orang dalam. Banyak faktor yang di luar kendali kita.
Yang bisa kita kendalikan cuma satu: terus nyoba dan terus belajar dari tiap kegagalan. Saya catat setiap pertanyaan yang bikin saya kewalahan, terus saya cari jawaban yang lebih baik buat wawancara berikutnya. Perlahan, saya jadi makin siap.
Buat kamu yang lagi di posisi saya dulu — duduk di kamar sempit, mikirin ongkos ke kota, dan ragu apakah layak melamar — saya cuma mau bilang: kamu nggak perlu jadi sempurna buat diterima. Kamu cuma perlu jujur, mau belajar, dan nggak berhenti nyoba. Kota besar itu memang keras, tapi bukan berarti nggak ada tempat buat orang kayak kita.
Kalau saya yang cuma modal nekat dan kemeja lusuh aja bisa lolos, kamu juga bisa. Yang penting, jangan sampai lupa siapa kamu dan dari mana kamu berasal. Itu yang bikin kamu berbeda dari yang lain.