Jujur aja, sebulan lalu gue masih orang yang kalau ditanya "ceritakan tentang diri kamu" langsung blank. Bukan karena nggak tahu jawabannya, tapi karena mendadak semua kata hilang entah ke mana. Kalau kamu baru mulai cari kerja dan merasa hal yang sama, artikel ini buat kamu.
Gue bukan ahli karier. Gue cuma orang biasa yang iseng nyoba latihan wawancara selama sebulan penuh, tiap hari, meskipun cuma 15-20 menit. Nggak pakai kursus mahal, nggak pakai mentor. Cuma rekam diri sendiri pakai HP, dengerin ulang, terus maju lagi besoknya. Dan hasilnya? Lumayan bikin kaget.
Baca juga: Wawancara Kerja: 5 Kesalahan Orang Tua Muda di Kota Besar
Minggu pertama: ternyata gue nggak seburuk yang gue kira (tapi juga nggak bagus-bagus amat)
Hari pertama latihan, gue rekam jawaban gue soal kelebihan dan kekurangan. Pas ditonton ulang, rasanya pengen hapus HP-nya. Banyak "eee", "gitu deh", dan mata gue ke mana-mana kayak lagi nyari sinyal. Tapi justru di sinilah poinnya: kamu nggak akan pernah tahu masalahnya kalau nggak pernah lihat rekaman diri sendiri.
Di minggu ini gue sadar satu hal penting. Selama ini gue selalu mikir wawancara itu soal jawaban yang benar. Padahal yang dinilai pertama kali justru cara kamu menyampaikan. Tempo bicara, kontak mata, dan gestur tubuh ternyata lebih dominan daripada isi jawaban yang super canggih.
Gue mulai bikin catatan kecil. Tiap kali latihan, gue cuma fokus benerin satu hal. Hari ini tempo bicara, besok kontak mata, besoknya lagi struktur jawaban. Nggak sekaligus, karena kalau semuanya dibenerin barengan malah bikin pusing sendiri.
Minggu kedua sampai ketiga: jawaban mulai punya "bentuk"
Ini fase yang paling kerasa perubahannya. Awalnya jawaban gue ngambang, muter-muter, nggak jelas ujungnya. Setelah beberapa kali latihan, gue mulai kebiasaan pakai pola sederhana: situasinya apa, gue ngapain, hasilnya gimana. Nggak perlu istilah keren, yang penting jelas.
Contoh waktu ditanya soal konflik di tim. Dulu gue jawab normatif, "saya selalu mengedepankan komunikasi". Sekarang gue cerita kejadian nyata, apa yang gue lakuin, dan apa yang akhirnya berubah. Jawaban kayak gini jauh lebih meyakinkan karena ada buktinya, bukan cuma teori.
Yang berubah bukan cuma isi jawaban, tapi rasa percaya diri waktu ngomong. Gue nggak lagi mikir "jawaban gue bener nggak ya", tapi lebih ke "gue udah siap cerita ini".
Gue juga mulai nyiapin beberapa cerita cadangan. Minimal tiga situasi dari pengalaman kuliah, organisasi, atau kerja sampingan yang bisa dipakai buat jawab berbagai pertanyaan. Jadi waktu interviewer nanya hal tak terduga, gue tinggal pilih cerita yang paling nyambung, nggak perlu ngarang di tempat.
Hal kecil yang ternyata ngaruh banget
Ada beberapa hal sepele yang gue baru sadar penting setelah latihan sebulan. Pertama, jangan buru-buru jawab. Ambil jeda satu-dua detik buat mikir, itu wajar dan justru kelihatan tenang. Kedua, jangan takut bilang "saya belum pernah menghadapi situasi itu, tapi kalau dipikir..." karena jujur lebih aman daripada ngarang.
Ketiga, siapin pertanyaan buat balik ditanyain ke interviewer. Dulu gue sering kehabisan pertanyaan dan akhirnya cuma bilang "sudah cukup, terima kasih". Sekarang gue selalu punya dua-tiga pertanyaan soal tim, budaya kerja, atau ekspektasi di tiga bulan pertama. Interviewer kelihatan lebih tertarik waktu gue nanya balik.
Minggu keempat: yang paling kerasa bukan soal jawaban
Ini bagian yang paling nggak gue duga. Setelah sebulan latihan, yang paling berubah ternyata bukan kemampuan jawab pertanyaan, tapi cara gue memandang wawancara itu sendiri. Dulu gue lihat wawancara kayak ujian yang harus lolos. Sekarang gue lihat sebagai obrolan dua arah buat cek cocok atau nggak.
Efeknya besar. Waktu wawancara beneran, gue nggak lagi deg-degan berlebihan. Kalau ada pertanyaan yang susah, gue bisa tenang mikir sebentar. Kalau ada jawaban yang kurang pas, gue nggak langsung panik dan bikin seluruh sesi jadi berantakan. Rasa gugup tetap ada, tapi sekarang nggak menguasai gue.
Gue juga jadi lebih sadar diri. Tahu kapan harus berhenti ngomong, tahu kapan harus kasih contoh, dan tahu kapan cukup jawab singkat tanpa bertele-tele. Hal-hal kayak gini nggak bisa didapat dari baca tips doang, harus dilatih berulang kali sampai jadi kebiasaan.
Buat kamu yang baru mau mulai
Kalau kamu pemula dan merasa latihan wawancara itu ribet, gue paham. Tapi percaya deh, modalnya cuma HP, niat, dan 15 menit sehari. Nggak perlu nunggu ada panggilan interview dulu. Justru makin awal latihan, makin santai waktu wawancara beneran datang.
- Rekam jawaban kamu, tonton ulang, catat satu hal yang mau diperbaiki besok.
- Siapin tiga cerita pengalaman yang bisa dipakai buat banyak pertanyaan.
- Latih jeda sebelum jawab, jangan buru-buru.
- Selalu siapin pertanyaan buat balik ditanyain.
Sebulan memang bukan waktu yang lama. Tapi cukup buat ngubah gue dari orang yang blank waktu ditanya jadi orang yang bisa cerita dengan tenang. Kalau gue bisa, kamu juga bisa mulai dari rekaman pertama hari ini. Nggak usah perfect, yang penting mulai.